Sunday, 15 January 2012

WAYANG KULIT di balik layar tancap...;)

tik..tik...tik....bunyi rintikan hujan di sudut jendela. Aku cuba menyelak buku2 traveling dan menyemak  kembali catatan perjalanan tentang aktiviti senibudaya di kota Yogyakarta di kala malam. Ahaaak...tertera wayang kulit di Museum Sonobudoyo. Tanpa berfikir panjang dan meredah hujan, kami ke kota yang masih hidup tanpa segan matinya meskipun hujan cuba mendamaikan kota Yogyakarta.

malam2 hujan yang masih hidup....~

Setelah memakir kenderaan yang agak berjauhan dengan museum kerana laluan utama ditutup, kami mulai berjalan kaki sambil menikmati malam gerimis menuju ke arah museum. Semoga nasib menyebelahi kami dan pertunjukan wayang kulit belum habis...*sambil berharap..uhukkk*. Dari catatanku,  pertunjukan wayang ini diadakan setiap malam di Museum Sonobudoyo kecuali hari minggu. Sejurus sampai, kami disambut oleh penjaga muzium sambil ditunjukkan tajuk pewayangan yang dimainkan pada malam itu.


tok dalang dan watak2 wayangnya....

sebahagian tokoh2 wayang dalam kitab2 jawa kuno...

Ahaaaa...rata-rata pertunjukan wayang di sini berlangsung selama 2 jam. Dengan mengambil cerita pewayangan dari kitab jawa kuno seperti kitab Ramayana, Mahabrata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda dengan menggunakan bahasa jawa halus semestinya menjadikan jalan ceritanya agak hidup. *hemm....tapi x berapa paham pun sebab jawe halus kannn (@-@)*. Sekali lagi kami disambut oleh bapak2  penjaga kaunter tiket wayang kulit yang berharga rp 20 ribu. Kebetulan waktu itu, pertunjukan wayang sudah lama berlangsung dan kira2 setengah jam lagi akan berakhir, kami hanya membayar rp 5 ribu tiap seorang. Ini sudah pasti setelah berlaku tawar menawar antara si bapak dan teman petualangku...*ekekkeke....si bapak bertanya mahunya beropo?. sudah ditanya sedemikian, kami mahunya yang paling murah pak...lalu mengeluarkan 1 keping  rp 10 ribu untuk dua orang...eheeeeee...;)....=P*



citera2 pewayangan yang dimainkan malam itu....

*mungkin ini gunungan yang dimaksudkan di museum Kekayon

Kembali dibawa ke alam sejarah wayang kulit, rupa2nya kemunculannya di tanah jawa memiliki ceritera yang tersendiri yang mempunyai kaitan yang erat dengan kedatangan Islam di jawa. Antaranya adalah peranan Wali Songo yang menciptakan dan mengadaptasikan "wayang Beber" yang berkembang di saat kejayaan Hindu-Budha. Oleh kerana wayang begitu kuat dengan adat jawa, ia dijadikan sebagai saluran media yang tepat untuk menyebarkan dakwah Islam sehinggalah terciptanya wayang kulit sepertimana yang dimainkan di sebalik layar tancap.....*hemmmm...begitu rupanya.....*. Kebiasaanya pertunjukan wayang kulit ini  dimainkan oleh penghibur masyarakat iaitu tok dalang yang hebat. Masakan tidak, selama semalam suntuk, semua tokoh2 wayang yang banyak hanya dimainkan oleh seorang tok dalang yang boleh mengubah karakter suara, berganti intonasi bahkan kadang2 menyanyi. Untuk menghidupkan suasana pula tok dalang akan dibantu oleh para pemain gamelan dan ibu2 yang menyanyikan lagu gamelan jawa....*takjub2...*.

keting2...apabila wayang kulit dilagakan...



para pemain alatan gamelan....

keting...keting..keting....bunyi wayang bergema di sebalik layar yang dimainkan oleh tok dalang sambil menggerakkan tokoh2 wayangnya. Pantas sahaja jari jemari tok dalang tersebut melakukan aksi2 wayang yang kembali menggamit nostalgia lama. Owh yah...yang menariknya pertunjukan di sini, kita boleh memilih untuk menyaksikan pertunjukkan wayang di kedua sisi samada di depan layar @ di belakang layar....*boleh bayangkan x..?*.  Uniknya di belakang layar, kami dapat melihat sendiri beberapa gerombolan ahli2 wayang yang berusaha menjayakan  pertunjukkan wayang malam itu.  Bapak2 yang memukul alat 2 muzik, ibu2 yang menyanyikan lagu gamelan jawa sebagai lagu latar pewayangan dan tok dalang sendiri sambil memegang tokoh2 wayang yang berwarna-warni. Manakala di depan layar pula, kami seperti dibawa ke zaman lampau bertemankan bayangan wayang di sebalik layar tancap yang disinari dengan suluhan lampu blencong...*klasikkkkkkkkkkkk...=D*.

eheeeeee...tersesat yoooo...=P


Kerusi2 masih banyak yang kosong. Tanpa segan silu kami dengan sukahati berpindah2 ke depan dan belakang pentas sambil men snap segala peluang dan peristiwa yang dapat dirakam. *eheee....iki jurnalis opo ki? dibilang bapaknya...gak pak..kita cuma hobi doang..erkkk...=P*. Pertunjukan wayang malam itu hanya disaksikan oleh kami orang Asia dan beberapa gerombolan warga asing...*uhuuk...=P*. keting2...keting2...sekali lagi tok dalang menggerakkan wayangnya dengan iringan gamelan jawa yang rancak dengan paduan suara ibu2 yang digelar sebagai "para sinden" yang lunak dan merdu.

habisss sudahh...;)

eheee...bapak pembuat wayang yang sempoi..;)

ahaaak...beginilah wayang kulit dibuat yer kawan2.....

uhuuii...siap sudah sebagai cenderamata...

Setelah selesai pertunjukan wayang, kami diajak ke ruangan pembuatan wayang yang terletak ruangan bersebelahan. Terdapat beberapa koleksi wayang yang sudah siap diukir dan dijual sebagai cenderamata boleh didapati di sini. Silakan saja memilih koleksi wayang bagi yang berminat...*eheee..mana tahu boleh dijadikan koleksi seperti Museum Kekayon pula..ekekekee...;)*. 

Jemput baca juga di sini yah...(dofont)...;)

INFO TAMBAHAN

  • Pertunjukan wayang kulit ini dapat disaksikan di Museum Sonobudoyo, Jl.Trikora No.6, Yogyakarta.
  • Pertunjukan ini diadakan setiap hari Isnin-sabtu dari jam 8-10 malam
  • Tiket wayang sebanyak rp 20 ribu..


4 comments:

Fariza said...

wow.... bestnyer...bawak balik satu kak

Hamka Kecil said...

eheeeeee.....bleh wat koleksi...;)

azraiasari said...

other than language & the stories, is there any different between wayang kulit di Tanah Jawa n di pantai timur Malaysia??

Hamka Kecil said...

huhuhu...dunno....sebab x penah lagi tgk wayang kulit pantai timur en.azrai..mungkin x de ibu2 yg nyanyi lagu gamelan kot..ehehhehe..=P

Post a Comment

 
;